KabarBahasa.id – Portal informasi bahasa yang menyajikan berita, opini, tokoh, dan kajian ilmiah seputar perkembangan bahasa, literasi, dan budaya di Indonesia.

Hubungi Kami

Tokoh

M. Tabrani, Sosok Pencetus Nama “Bahasa Indonesia”

Mohammad Tabrani Soerjowitjitro, atau yang dikenang dengan nama M. Tabrani, lahir di Pamekasan, Madura pada 10 Oktober 1904 dari orang tua bernama M. Soerjowitjitro dan Siti Aminah. Tabrani merupakan anak ketiga dari sembilan bersaudara. Pendidikannya dimulai pada usia sekitar 6 tahun, yakni di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) atau setara dengan pendidikan sekolah dasar pada 1910. Lalu pascalulus, dirinya melanjutkan studinya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) atau setara pendidikan menengah pertama di Surabaya pada 1917. Meski masih berusia remaja, jiwa nasionalisme Tabrani sudah sangat kentara. Dia memutuskan bergabung dengan Jong Java cabang Surabaya saat masih kelas I MULO. Keseriusannya sebagai anggota Jong Java dibuktikannya dengan mengikuti Kongres Jong Java I di Solo pada 1918. Studi menengah pertama berhasil diselesaikannya di tengah-tengah keaktifan berorganisasi yang dijalaninnya. Selanjutnya, Tabrani memiliki untuk merantau ke Bandung untuk melanjutnya pendidikan menengah atasnya atau Algemeene Middelbare School (AMS). Keaktifannya sebagai anggota Jong Java serta wartawan suatu surat kabar, membuat Tabrani tinggal kelas dan bahkan hampir dikeluarkan. Namun, melalui sidang yang dilakukan terhadap dirinya, Tabrani tidak jadi dikeluarkan tetapi diharuskan mengurangi kegiatan di luar sekolah. Hingga kemudian pada 1923, dirinya pindah ke Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) Serang. Tetapi kemudian, dia kembali ke Bandung dan memutuskan pindah dari OSVIA Serang ke OSVIA Bandung yang menjadi pusat pimpinan Dienaar Indie (Abdi Indonesia), sekolah untuk para calon pegawai negeri. Sekolah tersebut kini disebut dengan Institut Pegawai Dalam Negeri (IPDN). Tabrani yang tidak bisa diam memilih mengisi waktu luangnya saat belajar di OSVIA Bandung dengan menjadi seorang penulis di harian berbahasa Belanda, De Locomotief Semarang. Hingga lulus dari OSVIA, dia tidak memilih menjadi seorang pegawai negeri layaknya teman-teman lainnya. Dirinya justru memilih bekerja di media bernama Hindia Baroe Jakarta mulai Juli 1925. Di kantor medianya ini, Tabrani bahkan sampai mencapai posisi redaktur pertama atau pengganti pemimpin redaksi saat ada yang berhalangan. Sempak terjangnya dalam dunia jurnalistik membawanya mengenali bahasa Indonesia, hingga kemudian dia dipercaya sebagai Ketua Kongres Pemuda Pertama pada 1926. Kontribusi M. Tabrani dalam Sumpah Pemuda Keterampilan Tabrani semakin dikenal saat dia menjadi wartawan di koran Hindia Baroe. Pada 15 November 1025 di Gedung Lux Orientis Jakarta, Tabrani berhasil mengadakan Konferensi Organisasi Pemuda Nasional Pertama. Pertemuan-pertemuan merupakan usaha lain dari para pemuda setelah kegagalan mereka membentuk federasi antara Jong Java dan Jong Sumatranen Bond. Hasil konferensi tersebut menghasilkan rencana penyelenggaraan Kongres Pemuda Pertama pada 30 April–2 Mei 2026 di Jakarta. Tabrani yang merupakan perwakilan dari Jong Java yang kemudian dipercaya menjadi ketua kongres pemuda tersebut. Terpilihnya Tabrani bukan tanpa sebab. Dia dianggap sebagai wartawan muda yang cerdas dan cerdik. Ini sekaligus menjadi trik untuk mengelabui para pejabat Belanda. Dirinya yang sebagai wartawan, tentu tidak akan mengundang kecurigaan pihak yang berwajib. Sebagai bagian dari strategi, Tabrani meminta agar semua pidato yang akan disampaikan pada kongres pemuda harus ditulis.   Salah satu langkah awal cerdik Tabrani adalah dengan mendekati Visbeen Hoofdparker, Komisaris PID yang ditugaskan selama Kongres Pemuda Pertama. Visbeen meminta agar Tabrani tidak berbuat macam-macam karena hal itu akan merepotkan dirinya dan anak buahnya. Tabrani pun memberikan solusi terkait hal itu, yakni dengan menyerahkan salinan naskah pidato yang telah diseleksinya sehingga Visbeen tidak perlu membuat catatan. Pejabat Belanda itu tidak menyadari bahwa dirinya sedang dikelabui, bahkan justru mengucapkan terima kasih. Kongres Pemuda Pertama berlangsung selama tiga hari. Salah satu hari yang berlangsung sengit adalah pada hari ketiga, saat Muhammad Yamin mengisi salah satu sesi pidato. Melalui pidato berjudul "Kemungkinan Perkembangan Bahasa-Bahasa dan Kesusasteraan Indonesia di Masa Mendatang", Yamin berpendapat bahwa hanya ada dua bahasa yabg berpeluang dijadikan sebagai bahasa persatuan Indonesia, yaitu bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Yamin mengusulkan dua bahasa tersebut tanpa mengurangi penghargaannya terhadap bahasa-bahasa lainnya di Nusantara. Ada pertimbangan logis mengapa dirinya mengusulkan dua bahasa tersebut. Bahasa Jawa mempunyai peluang menjadi bahasa persatuan karena bahasa Jawa adalah bahasa dengan jumlah penutur terbanyak. Adapun bahasa Melayu mempunyai peluang karena saat waktu tersebut bahasa Melayu sudah menjadi bahasa pergaulan (lingua franca). Oleh karena telah menjadi bahasa penjembatan atau lingua franca, Yamin mengatakan bahasa Melayu memiliki peluang yang lebih menjadi bahasa persatuan dibandingkan bahasa Jawa. Pidato Muhammad Yamin ini akan dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan kongres berupa satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Akan tetapi, Tabrani menolak dan tidak sependapat jika bahasa persatuan dinamakan bahasa Melayu sebagai usulan Yamin. Tabrani tidak sependapat karena dirinya berpikir bahwa jika nusa bernama Indonesia, bangsa bernama Indonesia, maka bahasa pun harus bernama bahasa Indonesia, bukan bahasa Melayu. Pendapat Tabrani ini direspons oleh Yamin yang mengatakan bahwa “Bahasa Indonesia tidak ada; Tabrani tukang ngelamun”. Yamin memang sedang "naik pitam" karena ketidaksetujuan Tabrani atas konsep kebahasaan yang diusulkannya. Namun, Tabrani tetap kekeh dengan pendiriannya. Dia mengatakan bahwa nama persatuan hendaknya bukan bahasa Melayu, tetapi bahasa Indonesia. Jika pun belum ada, maka harus dilahirkan melalui Kongres Pemuda Indonesia Pertama ini.   Namun, ketidaksepahaman antara Tabrani dengan Yamin ini yang berakibat pada tidak dihasilkannya keputusan kongres. Barulan pada Kongres Pemuda II istilah nama "Bahasa Indonesia" ini akhirnya lahir dan disepakati sebagai bahasa nasional sebagaimana terdapat pada Ikrar Sumpah Pemuda. Wafatnya M. Tabrani Hingga Gelar Pahlawan Nasional Tabrani berusia 80 tahun hingga dirinya mengembuskan napas terakhir pada 12 Januari 1984. Tabrani dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Atas jasa yang telah dilakukan Tabrani, Badan Bahasa mengupayakan gelar pahlawan untuk Tabrani. Usulan dari Badan Bahasa tersebut akhirnya disetujui dan diberikan Presiden Joko Widodo pada 10 November 2023. Referensi: M.Tabrani. 1979. Anak Nakal Banyak Akal. Jakarta: Aqua Press. Rahman, Momon Abdul, Darmansyah, Suswadi, Sri Sadono Wiyadi, dan Misman. 2008. Sumpah Pemuda: Latar Sejarah dan Pengaruhnya bagi Pergerakan Nasional Edisi Ketiga. Jakarta: Museum Sumpah Pemuda.
Tokoh

Ferdinand de Saussure, Bapak Linguistik Modern

Perkembangan ilmu bahasa di dunia barat dan dunia timur dapat dikatakan berjalan secara beriringan. Di dunia barat, periodesasi perkembangan ilmu bahasa dapat dibedakan berdasarkan zamannya, yakni Zaman Yunani, Zaman Romawi, Zaman Pertengahan, Zaman Renaissance, Abad XIX, dan Abad XX. Adapun di dunia timur, perkembangan ilmu bahasa dapat ditelusuri awal jejaknya di dua negara, yakni India dan Arab (akan dibahas secara khusus di tulisan berikutnya). Perjalanan ilmu bahasa di dunia barat dapat dikatakan lebih rapi dan terdokumentasi karena giatnya para tokoh dalam menuliskan setiap temuan yang mereka temukan. Perkembangan ilmu bahasa di dunia barat diawali kemunculan tokoh-tokoh pada Zaman Yunani yang berkontribusi besar sebagai fondasi awal ilmu bahasa.  Tokoh-tokoh tersebut antara lain Plato, Aristoteles, Zeno, Dyonisius Thrax, dan Apollonius Dyscolos. Para tokoh ini berkontribusi dalam menemukan jenis-jenis kata, yakni onoma, rhema, syndesmos, serta juga nomina, pronominal, artikel, verbal, adverbial, preposisi, partisipium, konjungsi. Pada Zaman Yunani juga, telah muncul diskursus-diskursus mengenai gender kata, tata bahasa atau gramatikal, serta kasus-kasus dalam gramatikal. Berlanjut pada Zaman Romawi, terdapat tokoh-tokoh penting yang berperan besar dalam ilmu bahasa, seperti Crates, Varro, dan Priscia. Pada zaman ini, para tokoh cenderung melakukan penerapan dan pengembangan dari temuan-temuan dari Zaman Yunani. Seperti buku De Lingua Latina berjilid 25 karangan Varrio yang dibagi dalam bidang Etimologi, Morfologi, dan Sintaksis. Buku ini berisi uraian pendapat dan saran-saran linguistiknya. Zaman Pertengahan menjadi masa yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan ilmu bahasa di dunia barat. Dari tahun 1100 M sampai akhir zaman ini merupakan petunjuk nyata yang mana didominasi oleh filsuf-filsuf skolastika. Hal yang perlu dicatat dari Zaman Pertengahan ini adalah munculnya Kaum Modistae dan Tata Bahasa Spekulatif. Memasuki Zaman Renaissance, perkembangan ilmu bahasa semakin mengarah ke hal positif. Zaman ini dianggap sebagai zaman Pembukaan Abad Pemikiran atau Abad Modern. Masyarakat pada zaman ini mulai terbuka terkait pentingnya perkembangan ilmu, tidak terkecuali ilmu bahasa. Bahasa-bahasa lain di Eropa, di luar Latin, Yunani, dan Arab, mendapat perhatian dan pembahasan, serta penyusunan tata bahasa pada ini. Zaman Renaissance seakan menjadi pintu dari perkembangan ilmu bahasa yang semakin masif dan komprehensif. Masuk pada Abad XIX, istilah “Linguistik” pertama kali muncul meskipun tidak ada literatur yang secara spesifik menyebutkan siapa yang pertama kali mencetuskan istilah ini. Meski begitu, tokoh-tokoh seperti Rasmus Kristian Rask dan Jacob Grimm tidak dapat dilepaskan jasanya pada perkembangan ilmu bahasa di masa ini. Hal lain yang menjadi temuan penting pada periode ini adalah bahwa persaudaraan bahasa tidak hanya dapat ditunjukkan dari persesuaian dalam sejumlah kata, tetapi juga dibutuhkan perbandingan seluruh struktur bahasa. Dalam hal ini adalah morfologi. Abad XX menjadi periode yang banyak memunculkan tokoh-tokoh linguistik terkemuka. Pada periode ini, bahasa telah dipahami sebagai sesuatu yang tidak hanya selalu berubah, melainkan bahasa juga dianalogikan sebagai suatu bangunan yang bagian-bagiannya berhubungan satu sama lain secara organis dan oleh karenanya juga harus diselidiki sebagai suatu dasar yang besar yang konstan. Masa inilah yang melahirkan seorang ahli linguistik yang kemudian dikenal sebagai Bapak Linguistik Modern, yakni Ferdinand de Saussure. Biografi Singkat Ferdinand de Saussure  Ferdinand De Saussure lahir di Jenewa, Swiss pada 26 November 1857 dari pasangan Henri Louis Frederic de Saussure dan Countess Louise de Pourtalès. Ayahnya merupakan seorang ahli mineral, taksonomi, dan entomologi (ilmu tentang serangga), sedangkan ibunya merupakan seorang bangsawati Swiss dari keluarga aristokrat Pourtalès. Berasal dari keluarga bangsawan dengan nama Calvinis, Saussure merupakan anak sulung dari sembilan bersaudara. Leluhurnya melarikan diri dari Lorraine Prancis pada abad ke-15 karena kasus penganiayaan yang terjadi di wilayah itu. Selanjutnya, mereka menetap di Jenewa. Dapat dikatakan, keluarga Saussure merupakan klan tertua dan terpandang di Jenewa dengan pendirinya bernama Mongin atau Mengin Shouel. Saat usia 12 tahun, Saussure mengawali pendidikannya di Ecole Martine, Vufflens-le-Château. Setelah lulus dari sekolah itu, dirinya melanjutnya studi ke College de Genève pada 1872, lalu ke Gymnase de Genève. Di tingkat pendidikan atas, Saussure menempuh pendidikan di Université de Genève atau Universitas Jenewa. Ia mulai mempelajari mengenai bahasa-bahasa, seperti Latin, Sanskerta, hingga Yunani Kuno.  Menjelang usia ke-19, yakni sekitar 1876, Saussure merantau ke Leipzig, Jerman dan berjumpa dengan Hermann Osthoff dan Karl Brugmann yang menjadi gurunya. Kedua orang ini merupakan peletak dasar dari teori neogrammatische richtung (neogrammarian). Semangat akademis Saussure memang telah tampak sejak muda. Bahkan pada usianya yang baru menginjak 20-an tahun, dirinya berhasil memublikasikan tulisan pertamanya di Memoires of the Société de Linguistique de Paris. Selanjutnya, ia juga menerbitkan buah pemikirannya yang berjudul “Mémoire sur le système primitif des voyelles dans les langues indo-européennes”. Dua karyanya ini berfokus pada fonologi bahasa Proto-Indo-Eropa. Karya-karya Saussure ini disambut dengan sangat baik dan positif oleh para akademisi bahasa.  Pada 1878 hingga 1879, Saussure kembali pergi memperkaya pengetahuannya. Kali ini ke Universitas Berlin untuk mempelajari Celtic bersama privatdozent Heinrich Zimmer dan Sansekerta bersama Hermann Oldenberg. Gelar Ph.D. didapat Saussure pada Februari 1880. Topik disertasinya membahas mengenai konstruksi absolut genitif dalam bahasa Sansekerta.  Memulai karier sebagai seorang dosen di École Pratique des Hautes Études, Saussure mengajar mata kuliah-mata kuliah klasik, seperti Bahasa Sanskerta dan Gotik. Ia mengajar di tempat itu hingga tahun 1889. Setelah itu, Saussure memutuskan kembali ke Université de Genève, dan dirinya ditawarkan sebuah posisi dalam studi bahasa dan sejarah Sansekerta, serta perbandingan bahasa Indo-Eropa. Pada 1892, Saussure menikah dengan Marie Faesch yang tidak lain adalah sepupunya. Mereka dikaruniai tiga orang anak, yakni Jacques, Raymond, dan André. Namun sayang, anak bungsunya André meninggal akibat wabah kolera pada tiga bulan usianya.  Saussure mengajar bahasa Sanskerta dan bahasa Indo-Eropa cukup lama di Université de Genève. Hingga pada 1907, dia memutuskan untuk membuka kelas mengenai Linguistik Umum. Saussure pun wafat di wilayah Vufflens-le-Château, Swiss pada 22 Februari 1913. Dari kelas Linguistik Umum inilah, para siswanya kemudian mengumpulkan materi-materi pembelajaran Saussure dari 1907 hingga 1911 menjadi sebuah buku dan menerbitkannya pada 1916 dengan judul Cours de linguistique Générale. Buku itu selanjutnya diterbitkan untuk pertama kalinya oleh Oxford University Press dengan judul berbahasa Inggris Writings in General Linguistics.  Kontribusi Ferdinand de Saussure terhadap Ilmu Bahasa Penyematan Ferdinand de Saussure sebagai Bapak Linguistik Modern tentu bukan tanpa sebab. Saussure memberikan banyak sumbangsih pengetahuan terhadap ilmu bahasa. Pemikiran fenomenal Saussure yang paling signifikan dalam mengubah paradigma ilmu bahasa adalah terkait langue dan parole, signifiant dan signifié, sintagmatik dan paradigmatik, sikronis dan diakronis, serta semiotika struktural. Langue dan Parole Saussure menyebutkan bahwa linguistik mendasarkan pada tanda yang terbentuk karena langue dan parole. Langue, secara sederhana, dimaknai sebagai sistem sosial. Maksudnya, sistem yang berisi kaidah-kaidah (bahasa) yang telah menjadi konvensi dan digunakan sebagai alat komunikasi. Sebagai contoh, sistem bahasa Indonesia.  Adapun parole, secara sederhana, dimaknai sebagai wujud ujaran. Atau dapat dijelaskan, bahwa parole ini merupakan penggunaan bahasa yang dihasilkan secara individual dan bersifat konkret. Dialek dan logat merupakan contoh dari parole ini. Meski begitu, menurut Saussure, langue lebih penting dibandingkan parole. Pada KBBI V Daring (2025), kedua istilah ini digabungkan dan dimaknai sebagai ‘dua konsep yang digunakan untuk membedakan bahasa sebagai sistem bentuk dan kontras yang tersimpan di dalam akal budi pemakai bahasa (langue) dan bahasa sebagai perbuatan berbicara oleh seorang individu pada waktu tertentu (parole)’.  Konsep langue dan parole ini dapat dianggap sebagai titik awal dari dikenalnya strukturalisme dalam linguistik. Menurut Saussure, konsep mengenai sesuatu, tindakan, dan gagasan merupakan bagian dari bahasa yang mampu dibangkitkan oleh kombinasi suara tertentu melalui skema di otak. Atau dapat dikatakan, langue adalah suatu sistem tanda yang setiap tandanya terdiri dari dua unsur, yaitu konsep dan bunyi secara psikologis. Penggabungan antara langue dan parole ini memunculkan yang namanya langage ‘bahasa’.  Signifiant dan Signifié Bahasa merupakan sistem tanda yang disepakati. Saussure menyebut tanda dalam bahasa ini mencakup dua hal, yakni signifiant dan signifié.  Signifiant, atau signifier dalam bahasa Inggris, adalah penanda atau yang menandai. Adapun signifié, atau signified dalam bahasa Inggris, adalah petanda atau yang ditandai. Secara sederhana dapat dijelaskan, apabila signifiant adalah wujud fisik dari suatu bahasa berupa ujaran, maka signifié adalah konsep di dalam benak si penutur yang menyertai ujaran tersebut. Signifié merupakan makna dari signifiant.  Artinya, dua hal ini, baik signifiant dan signifié, saling berkelindan dan dapat dianalogikan seperti dua sisi mata uang. Apabila salah satu sisi mata uang tidak ada, maka uang tersebut tidak lagi bernilai. Lantas, apakah hubungan antara signifiant dan signifié dalam setiap bahasa sama? Tentu saja tidak. Setiap bahasa memiliki hubungan di antara keduanya secara arbitrer. Artinya, setiap bahasa memiliki kesewenang-wenangan untuk menentukan signifiant atas signifie. Sebagai contoh, saat seorang penutur bahasa Indonesia dalam benaknya (signifié) memiliki konsep terkait ‘binatang buas, bentuknya mirip dengan macan, pada jantannya terdapat bulu panjang di muka (sebagian kepala bagian depan)’, maka secara otomatis dia akan melontarkan satuan-satuan bunyi (signifiant) berupa SINGA [siŋa].  Namun, lain halnya jika penutur bahasa Inggris, maka saat ada konsep ‘binatang buas, bentuknya mirip dengan macan, pada jantannya terdapat bulu panjang di muka (sebagian kepala bagian depan)’, maka dia akan melontarkan satuan-satuan bunyi berupa LION [ˈlaɪən]. Ini adalah wujud dari kesewenang-wenangan itu.    (yang ada di benak/konsep penutur bahasa Indonesia saat mendengar SINGA) Sintagmatik dan Paradigmatik Kontribusi lain dari Saussure yang fundamental adalah terkait sintagmatik dan paradigmatik. Saussure berpendapat bahwa setiap ujaran bahasa sejatinya adalah rangkaian suara yang diurutkan sesuai pola sintaksisnya. Mulai dari pola yang paling sederhana, hingga pola rangkaian yang kompleks. Urutan yang membentuk linearitas satuan ujaran inilah yang disebut dengan sintagmatik. Dalam KBBI V Daring (2025), sintagmatik dimaknai sebagai ‘hubungan antara dua atau lebih satuan bahasa yang digunakan secara berurutan untuk membuat struktur yang terbentuk dengan baik’.  Agar bisa dipahami, dapat dicontohkan dengan ujaran “Hasan makan nasi goreng”. Hubungan linearitas antara Hasan dengan makan, lalu makan dengan nasi, serta nasi dengan goreng merupakan contoh dari sintagmatik. Empat konstituen ini secara baik membentuk urutan yang mudah dipahami oleh pendengar. Bayangkan jika keempat konstituen tersebut memiliki urutan “Nasi makan Hasan goreng”. Adapun paradigmatik adalah hubungan asosiatif yang didasarkan pada kesamaan bentuk atau makna. Secara operasional, KBBI V Daring (2025) mendefinisikan paradigmatik sebagai ‘hubungan unsur bahasa dalam tingkat tertentu dengan unsur lain di luar tingkat itu yang dapat dipertukarkan”.  Untuk memahami, kembali perhatikan contoh ujaran “Hasan makan nasi goreng”. Hasan adalah individu manusia yang diidentifikasi dari jenis makanan yang dimakan, yakni nasi goreng. Oleh karena Hasan adalah individu manusia, maka posisi Hasan dalam ujaran tersebut dapat diganti menjadi Santi sehingga menjadi “Santi makan nasi goreng”. Ujaran tersebut berterima secara struktur dan makna. Dengan demikian, Hasan dan Santi memiliki hubungan paradigmatik. Lalu, apakah Hasan memiliki hubungan paradigmatik dengan ikan? Coba gantilah kata Hasan dengan ikan!  Pembeda yang paling mudah dipahami di antara sintagmatik dan paradigmatik adalah sifatnya. Apabila hubungan sintagmatik bersifat horizontal, sedangkan hubungan paradigmatik bersifat vertikal. Sikronis dan Diakronis Realitas bahasa tidak sepenuhnya dapat dipahami jika tidak memperhatikan dimensi sosial dan sejarahnya. Kedua dimensi ini pun tidak serta merta dapat dipisahkan. Melainkan, keduanya juga saling berkelindan sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh.  Jika hanya memperhatikan dimensi sosial, kita tidak dapat melihat pengaruh kekuatan sosial yang bekerja pada bahasa. Begitu juga jika kita hanya memperhatikan dimensi sejarah saja, maka kita membayangkan kehidupan yang terisolasi pada periode tertentu. Kita tidak mampu melihat perubahan apa pun. Oleh karena itu, Saussure kukuh menyatakan bahwa studi tentang sistem bahasa yang ada pada suatu titik waktu tertentu (sinkronis) harus dipisahkan dengan studi tentang perubahan yang mungkin mengintervensi selama periode waktu tertentu (diakronis). Alasannya, menurutnya, saat kedua studi ini tidak dipisahkan, maka dapat memunculkan kerancuan fakta sinkronis dengan diakronis. Ini menjadi salah satu kelemahan utama kajian bahasa pada zamannya. Lebih lanjut, Saussure beranggapan bahwa bahasa harus dianggap sebagai fenomena sosial. Sebuah fenomena dengan sistem terstruktur yang dapat dilihat secara sinkronis (seperti yang ada pada waktu tertentu) dan secara diakronis (seperti yang berubah dalam perjalanan waktu). Semiotika Struktural Sebagai seorang strukturalis, yang kemudian juga menginspirasi Claude Lévi-Strauss, Saussure cenderung mengutamakan studi sinkronis dibandingkan studi diakronis. Sinkronis hanya mempertimbangkan peristiwa yang terjadi dalam suatu masa yang terbatas (KBBI Daring V, 2025). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dalam semiotika strukruralis tidak bahasa tidak dikaji berdasarkan urutan waktu (kronologis) pembentukannya. Perlu dipahami terlebih dahulu apa itu semiotika. Dalam bahasa yang sederhana, semiotika diartikan sebagai ilmu tentang tanda. Adapun struktural diartikan sebagai sesuatu yang berkenaan dengan struktur. Dengan demikian, dapat diintisarikan semiotika struktural merupakan kajian tanda dalam struktur bahasa. Adapun secara lebih harfiah didenifisikan sebagai ‘cabang semiotika yang mempelajari tanda yang dimanifestasikan melalui struktur bahasa’ (KBBI V Daring, 2025).  Sebagaimana telah disebutkan di bagian sebelumnya, bahwa Saussure menyebut signifiant (penanda) dan signifié (petanda) dan keduanya merupakan pembentuk tanda bahasa. Oleh karena itu, adanya dua ini struktur yang membentuk tanda dalam bahasa inilah yang menjadi bukti dari strukturalisme dalam semiotika. Tanda sebagai kombinasi dari objek (petanda) dan bunyi untuknya (penanda).  Struktur dalam tanda bahasa menurut Saussure dapat diilustrasikan sebagai berikut.   Demikianlah pembahasa singkat mengenai tokoh penting dalam ilmu bahasa, Ferdinand de Saussure. Kontribusinya dalam perkembangan ilmu bahasa tidak pernah dapat kita abaikan. Pemikiran dan sumbangsih pengetahuan Saussure penting dalam memberikan fondasi dasar dalam memahami ilmu bahasa atau linguistik. Sumber Referensi: Britannica Editors. "Ferdinand de Saussure". Encyclopedia Britannica, 18 Feb. 2026, https://www.britannica.com/biography/Ferdinand-de-Saussure. Accessed 3 March 2026.  Chaer, Abdul. 2012. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta. Jonathan Culler, Ferdinand de Saussure, rev. ed. (1986); and Françoise Gadet, Saussure and Contemporary Culture (1989), explore the linguist’s theory and emphasize its importance in semantics. Joseph, John E. "Ferdinand de Saussure." Oxford Research Encyclopedia of Linguistics.  June 28, 2017. Oxford University Press. Date of access 3 Mar. 2026, <https://oxfordre.com/linguistics/view/10.1093/acrefore/9780199384655.001.0001/acrefore-9780199384655-e-385>  Kushartanti, Untung, Yuwono, and Multamia Retno Mayekti Lauder. 2005. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Pewarta. “Biografi Ferdinand de Saussure, Seorang Ahli Linguistik dari Swiss”. Pewarta Nusantara, 10 Februari 2021. https://www.pewartanusantara.com/news/biografi-ferdinand-de-saussure-seorang-ahli-linguistik-dari-swiss/ New World Encyclopedia Editors. “Ferdinand de Saussure”. New World Encyclopedia. https://www.newworldencyclopedia.org/entry/Ferdinand_de_Saussure. Accessed 3 March 2026. Saussure, Ferdinand de. 1988. Pengantar Linguistik Umum. Yogyakarta: UGM Press. “Saussure, Ferdinand de (1857–1913)." Encyclopedia of Modern Europe: Europe Since 1914: Encyclopedia of the Age of War and Reconstruction. Encyclopedia.com. 2 Feb. 2026 <https://www.encyclopedia.com>.
Showing results 1-2 of 2